HISAB AWAL WAKTU SALAT

HISAB AWAL WAKTU SALAT*
(Acuan Data Ephimeris Hisab Rukyat)
Abd. Rahman, S. Ag *

A. DASAR WAKTU SHOLAT
keutamaan sholatHadits tentang awal waktu shalat maktubah :

عن جابر بن عبد الله ر. ع قال ان النبي صلى الله عليه وسلم جاءه جبريل عليه السلام ‘
فقال له : قم فصله فصلى الظهر حين رالت الشمس ‘ ثم جاءه العصر حين صار ظل
كل شئ مثله ثم جاءه المغرب فقال فصله فصلى المغرب حين غا بت الشمس‘ ثم جاءه
العشاء فقال فصله فصلى العشاء حين غا ب الشفق‘ ثم جاءه الفجر فقال فصل فصلى
الفجر حين برق الفجر او قال سطع الفجر ( رواه احمد والنسائ والترميذى )

Artinya : Dari Jabir ibni Abdillah RA. Ia berkata, bahwa Nabi SAW. Didatangi Jibril AS. Seraya berkata “bagunlah dan shalatlah, maka beliau shalat zuhur saat matahari tergelincir, kemudian Jibril datang lagi pada waktu ashar seraya memerintahkan, bangunlah dan shlatlah, maka beliau shalat ashar ketika panjang bayang-bayang sepanjang bendanya , kemudian Jibril datang lagi pada waktu maghrib seraya memerintahkan ” bagun dan shalatlah, maka beliau shalat maghrib pada saat matahari tenggelam , kemudian Jibril datang lagi pada waktu isya’ seraya memerintahkan ” bangun dan shalatlah, maka beliau shalat isya’ pada saat hilangnya mega merah , kemudian Jiblir datang lagi pada saat fajar terbit, seraya memerintahkan bangun dan shalatlah, maka beliau shalat fajar di saat fajar terbit, atau ia berkata di saat fajar bersinar ( Riwayat Ahmad dan Nasai da at Turmudzi )

B. DATA YANG DIPERLUKAN
Dalam melakukan hisab awal waktu salat untuk suatu tempat, diperlukan sejumlah data baik yang berkenaan dengan tempat itu sendiri maupun yang berkenaan dengan Matahari karena waktu salat dikaitkan dengan fenomena pergerakan Matahari. Data-data tersebut meliputi Lintang Tempat, Bujur Tempat, Ketinggian Tempat, Deklinasi Matahari, dan Perata Waktu.
1. Lintang Tempat (Latitude, ‘Ard} al-Balad) ialah jarak di sepanjang “garis bujur” mulai dari “khatulistiwa” Bumi sampai ke titik perpotongan garis bujur itu dengan “lingkaran lintang” tempat yang bersangkutan. Lintang tempat diberi lambang “” (baca: fhi).
Khatulistiwa Bumi ialah lingkaran besar pada bola Bumi yang semua titiknya berjarak 90 dari kedua titik kutub Bumi. Khatulistiwa membelah bola Bumi menjadi dua bagian yang sama, yakni belahan utara dan belahan selatan.
Garis Bujur ialah garis yang ditarik dari kedua kutub Bumi dan memotong tegak lurus Khatulistiwa Bumi.
Lingkaran Lintang ialah lingkaran pada bola Bumi yang paralel (sejajar) dengan Khatulistiwa Bumi. Semakin jauh dari Khatulistiwa Bumi, ukuran lingkaran lintang semakin kecil. Bahkan di kutub Bumi, lingkaran lintang hanya berupa sebuah titik saja.
Semua tempat yang terletak pada lingkaran lintang yang sama, harga  nya sama. Yang di utara Khatulistiwa  nya berharga positip, sedangkan yang di selatannya berharga negatip (–). Harga lintang dinyatakan dengan derajat, menit, dan detik busur, yaitu 0° di Khatulistiwa, 90° di Kutub Utara, dan –90° di Kutub Selatan.
Harga  dapat diperoleh dari Almanak, Atlas, dan referensi lainnya. Untuk kota-kota di berbagai negara harga dapat diperoleh, antara lain, dari Atlas DER GEHELE AARDE yang disusun oleh PR BOS – JF MEYER JB, WOLTER GRONINGEN (Jakarta, 1951). Sedangkan untuk kota-kota di Indonesia bisa diperoleh dari ALMANAK JAMILIYAH yang disusun oleh Sa’adoeddin Djambek (kutipannya terlampir).

2. Bujur Tempat (T{ulul Balad) ialah jarak sepanjang “Lingkaran Lintang” mulai dari titik potongnya dengan garis Bujur Greenwich sampai ke titik potongnya dengan garis bujur tempat itu. Lambang bujur tempat adalah “” (baca: lambda).
Bujur Greenwich diposisikan sebagai salah satu sumbu pada tata koordinat Khatulistiwa sehingga ditetapkan sebagai Bujur 0°. Dari bujur 0° ke Timur sampai 180° dinamakan Bujur Timur dan ke Barat sampai 180° dinamakan Bujur Barat. Bujur 180° Barat dan Timur berhimpit di Lautan Pasifik. Bujur 180° Timur dalam sistem penanggalan Kristen (Masehi) dijadikan sebagai Garis Batas Tanggal.

3. Ketinggian Tempat ialah ketinggian tempat itu di permukaan laut yang dinyatakan dengan meter. Untuk mengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut digunakan alat yang bernama ALTEMETER.

4. Deklinasi Matahari (Mayl al-Syams) ialah jarak di sepanjang lingkaran deklinasi (bujur langit) mulai dari Khatulistiwa atau Ekuator Langit sampai ke titik pusat Matahari. “Deklinasi” diberi lambang “” (baca: delta).
Harga “” dinyatakan dalam satuan derajat, menit, dan detik busur. Jika Matahari berada utara Ekuator harga “” nya positip, sedangkan jika berada di selatan Ekuator harga “” nya negatip (–).
Di dalam EPHIMERIS HISAB RUKYAT DEPARTEMEN AGAMA RI, data “” Matahari dimuat pada kolom ke 5 dengan tajuk Apparent Declination. Untuk kepentingan hisab awal waktu salat, data “” Matahari diambil menurut tanggal dan jam GMT (Greenwich Mean Time) yang bertepatan dengan sekitar jatuhnya awal waktu salat dalam WIB.
Oleh karena bujur () jam WIB terletak pada 105 Timur, maka WIB berada pada zona +7 jam atas GMT. Artinya, jam WIB lebih dahulu 7 jam dibanding jam GMT. Dengan demikian, data deklinasi matahari untuk awal waktu salat:
5. Perata Waktu (Equation of Time, Ta’di>l al-Waqt, Ta’di>l al-Syams) ialah selisih atau paut waktu antara “Waktu Hakiki” (waktu matahari) dengan “Waktu Pertengahan” (waktu arloji) pada saat matahari berkulminasi (tengah hari), Lambang perata waktu adalah huruf “e” (kecil).
Di dalam EPHIMERIS HISAB RUKYAT DEPARTEMEN AGAMA RI, data “e” data dimuat pada kolom ke 9 dengan tajuk Equation of Time. Untuk pukul 12.00 WIB diambil pada lajur pukul 05.00 GMT.
Data “e” diperlukan untuk mengkonversi “waktu kulminasi matahari” (WKM) dari “jam matahari” (waktu hakiki) ke “jam arloji” (waktu pertengahan).
Mengkonversi WKM ke jam arloji lokal, rumusnya: 12.00 – e.
Mengkonversi WKM ke jam arloji WIB, rumusnya: 12.00 –e + kwdWIB.
Harga kwdWIB =  WIB –  Tempat : 15.
Langkah-Langkah Hisab
Secara garis besar, hisab awal waktu salat itu cukup dilakukan hanya dengan tiga langkah saja, yakni:
1. Mengkonversi WKM ke WIB.
2. Menghisab harga “Sudut Waktu” (t) Matahari pada awal waktu salat dan mengkonversinya menjadi jam dengan cara dibagi 15. Rumus untuk menghisab sudut waktu adalah: cos t = -tg  x tg + sin h : cos  : cos 
3. Menentukan awal waktu salat dengan “mengurangkan” (untuk Subuh) atau “menambahkan” (untuk Ashar, Maghrib, Isyak) jam “t” atas WKM.
Khusus untuk awal waktu Dhuhur cukup ditempuh langkah yang pertama saja.
Jika akan diberlakukan pada wilayah seluas daerah kabupaten/kota, maka waktu salat tersebut ditambah dengan Waktu Ikhtiyati (WI) 1-2 menit. Jika waktu salat itu akan diberlakukan untuk wilayah yang lebih luas, harga WI nya perlu ditambah lagi.
Penambahan angka WI adalah sekaligus berfungsi sebagai pembulat, sehingga waktu salat yang diumumkan satuan angkanya hanya berupa “jam” dan “menit” saja.
Praktik Hisab
Dalam makalah ini contoh hisab awal waktu salat Dhuhur, Subuh, Ashar, Maghrib, dan Isyak, dalam zona Waktu Indonesia Barat (WIB) pada tanggal 2 September 2006 untuk Lumajang dengan harapan segenap peserta Orientasi bisa mengaplikasikannya untuk tanggal dan tempat yang lain.
Lumajang yang terletak pada:
o Lintang () -8 8’
o Bujur () 113 14’ Timur
o Ketinggian 30 meter di atas permukaan laut (ini hanya asumsi saja).

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s